Welcome, guys, this site was created to be a place where creativity and imagination blend in harmony in terms of games, movies, arts, songs, health, and technology. This site is currently under development, any suggestion about the content will be happily received. We hope you enjoy your visits!

Tuesday, November 1, 2011

Live In 2 (Bahasa version) - Catatan Live In "Jurang Jero"


By : Benedictus Adrian Kristanto || XII IPA I / 04

Santa Ursula BSD



Dari pengertian, Live In berarti tinggal. Lalu, apa yang menarik dari live in ? Setiap kali Suster Fransesco dan para guru memberitahu kita sebagai anak kelas XII, live in yang akan kami rasakan berbeda dengan live in di sekolah lain. Dalam benak saya, hanya ada rasa penasaran ingin lekas terjun merasakan sensasi live in secara nyata. Kesempatan yang sangat berharga di penghujung kelas XII untuk merasakan live in yang mungkin akan menjadi pengalaman yang pertama dan terakhir di masa sekolah.

Diawali dengan persiapan selama kurang lebih 1 bulan. Dari pembagian desa, kemudian pembagian kelompok yang lebih kecil lagi, hingga pembagian teman serumah di desa nantinya. Berdiskusi tentang harapan dan ekspetasi kita masing - masing ketika kita menginjakkan kaki di bumi sana. Juga lagu One Moment in Time sebagai lagu pengantar live in di setiap kesempatan pertemuan. Memberi kesan tersendiri dalam persiapan live in yang lalu. Setiap bait yang memiliki makna dan sangat mengena pada live in kami.

Hingga tibalah hari yang dinanti, tanggal 10 September 2011. Pada pukul 13.00 para murid Katolik berkumpul untuk melakukan misa pemberkatan sekaligus pelepasan yang dipimpin oleh Pastor. Pada pukul 16.00 empat bus yang membawa kami akhirnya diberangkatkan dari Sanur BSD ke Wonosari. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih memakan waktu 15 jam dengan empat kali perhentian. Waktu – waktu dihabiskan di dalam bus, dari suasana berisik, hingga semuanya terlelap kelelahan.


Keesokan harinya, sekitar pukul 06.00, kami tiba di Wonosari, DIY. Kami semua berkumpul di Paroki Kelor sekadar menyantap sarapan dan membuang air. 2 jam kemudian, kami semua diberangkatkan ke desa masing – masing menggunakan truk. Sungguh pengalaman yang mengesankan, kali pertama kalinya menaiki truk sebagai transportasi. Perjalanan yang ditempuh menuju Jurang jero cukup jauh, yakni sekitar 45 menit. Daerah yang menurut saya cukup terpelosok dan jauh dari hiruk - pikuk jalan raya.



Kapel adalah tempat anak – anak Jurang Jero berkumpul. Ketika saat – saat yang dinanti yaitu pembagian keluarga, kaget bukan main, karena Jurang Jero B mendapat daerah yang paling jauh. Lebih mengagetkan lagi saya yang dipanggil pertama kali. Sambutan meriah dari teman – teman membuat saya hanya bisa tertawa. Lantas saya dan Louis, partner serumah saya bersama Dani, anak yang menjadi adik saya di sana, segera menuju rumah yang akan saya tempati untuk 4 hari mendatang.

Perjalanan menuju rumahnya sungguh tidak mudah, dibandingkan dengan Jurang Jero A maupun C. Jalan menurun berpijakkan batu demi batu dan melintasi sungai kering, kemudian naik lagi, ditambah terik matahari yang begitu menyengat, menjadikan kesan tersendiri sebagai awal pembuka live in di desa itu. Sesampainya di rumah, sambutan hangat dari Ibu Triyanti, ibu yang menjadi orang tua saya selama di desa itu. Kesan pertama, saya melihat kondisi rumah. Rumah bertembokkan kayu dan anyaman bambu, genteng yang mulai menua, serta alas yang masih berupa tanah kering dan sangat berdebu. Saya kira hanya rumah saya di sana yang lantainya belum disemen ataupun dilapisi ubin. Namun, bagaimanapun kondisinya, saya harus menerima dan mengayominya. Karena terlampau lelah, hari itu kami hanya beristirahat. Kami disuguhi makanan yang sangat melimpah, bahkan terlampau banyak bagi saya, karena di rumah asli saya hanya makan seadanya. Di rumah itu hanya ada Ibu dan Dani, kakaknya yang bernama Theresia sudah berkeluarga dan tinggal di kota, sedangkan Bapak Sumardi sedang berada di Banten mengerjakan pembangunan rumah adiknya.


Pekerjaan Ibu sehari – hari adalah bertani, Bapak pengrajin kayu, sedangkan Dani masih duduk di bangku 2 SMP di SMP Sanjaya. Karena sedang musim kemarau, sehingga aktivitas bertani tidak bisa dilakukan secara rutin, hanya mencabuti rumput gajah untuk makan sapi dan mengupas jagung untuk makan ayam. Keesokan harinya, tetap saja menganggur. Namun, pada pagi harinya ada kerja bakti yang dilakukan semua warga di daerah Jurang Jero B untuk membuat jalan. Akses transportasi di sana sangat sulit, karena infrastruktur yang sangat minim. Jalan bebatuan, sehingga dilaksanakanlah kerja bakti. Di situlah tercermin gotong royong dan keakraban satu warga dengan yang lain, sangat kental dan erat terasa, terlepas hubungan darah (kekeluargaan) di desa itu.

Hari itu saya manfaatkan untuk bercengkrama dengan ibu. Saya merasa banyak kemiripan antara keluarga mereka dengan keluarga saya. Baik itu dari komposisi anggota keluarga, cara pandang hidup, yakni kesederhanaan, dan perhatian ibu kepada saya. Hari ketiga akhirnya kami bekerja meski singkat, yakni memotong jagung, pengalaman baru bagi saya. Di sana juga saya bersyukur karena bisa merasakan bagaimana perjuangan untuk mandi kira - kira 100 m harus melalui batu – batu dan menimba sumur. Sebenanrnya ada yang di dekat rumah, namun sangat terbuka hanya ditutup bilik - bilik bambu dari 2 sisi saja. Dan hal yang berkesan lagi adalah wc cemplung alias wc tembak. Pada malam harinya, kami dari Jurang Jero B melakukan ekspedisi malam, ke daerah Magir, di mana kita bisa melihat kota Klaten dari atas gunung, sungguh indah dan sangat dingin udaranya.

Perhatian ibu sangat tercermin ketika hari keempat saya jatuh sakit, setiap subuh saya terbangun karena ayam berkokok setiap jam. Pukul 01.00 saya bangun, lalu pindah ke ruang tengah, dan ibu melihat, akhirnya saya mendapat kerokan pertama seumur hidup saya. Namun semakin parahlah sakitnya, sehingga saya hanya bisa beristirahat di tempat tidur. 1 hal yang saya syukuri adalah perhatian yang sangat besar dari ibu untuk merawat saya seperti anaknya sendiri dan perhatian dari teman – teman serta bapak guru yang datang untuk menjenguk saya.

Pada malam harinya kami berkumpul di rumah yang ditempati Alcio dan Joshua untuk melakukan ibadat (misa lingkungan) sekaligus berpamitan kepada keluarga di desa. Ibadat dengan bahasa Jowo halus, jadi kulo boten ngertos, itulah yang hanya bisa saya ucapkan. Pengalaman yang sangat berharga, berkesan, dan tak akan terlupakan selama hidup saya. Pandangan saya akan hidup ini semakin dibukakan. Bagaimana kita hidup dalam kesederhanaan, bagaimana hidup untuk selalu mensyukuri apa yang kita peroleh baik itu suka maupun duka, selalu mengedapankan kebersamaan dan persatuan, gotong royong dan saling membantu, tidak mengeluh meski dalam permasalahan yang berat menurut kita. Dan saya sangat bersyukur akan kesempatan ini, karena saya bisa merasakan hidup sebagai Wong Ndeso. Jurang Jero takkan terlupakan.

No comments:

Post a Comment

; ;